Tag-Archive for » Makalah «

Aug
27

Pertanian
Penekanan lebih besar diberikan pada produksi bahan pangan, sehingga akan cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan setiap orang dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu

Intensifikasi Pertanian
Yaitu menambah kualitas hasil pertanian dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam bidang bercocok tanam, meliputi : pemupukan, pengairan, pemilihan bibit unggul, pembuatan teras sawah rotasi tanaman dan lain-lain.

Ekstensifikasi Pertanian
Yaitu usaha menambah kualitas pertanian dengan jalan membuka hutan atau mengeringkan rawa-rawa untuk memperluas lahan pertanian.

Hutan

Reboisasi / Penghijauan
Yaitu penanaman kemballi tumbuh-tumbuhan atau pepohonan di kawasan yang telah gundul

Penebangan Selektif
Yaitu menebang tanaman dengan memilih mana kira-kira tanaman yang sudah layak ditebang dan mana yang masih harus dilestarikan.

Pencemaran
Setiap pabrik-pabrik atau industri-industri harus memiliki penyaringan asap dan tempat pembuangan limbah sehingga asap yang kotor tidak akan mencemari udara dan limbah-limbahnya tidak akan dibuang sembarang ke sungai sehingga tidak akan mencemari air.

Mengurangi / mengganti kendaraan yang dapat menimbulkan polusi

Aug
22

Dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk, maka semakin bertambah pula kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Sehingga mau tidak mau manusia harus mengambilnya dari lingkungan alam. Sehingga akibat dari pengambilan kekayaan lingkungan alam yang tidak terbatas menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan

Pertanian
Bumi kita kira-kira 3,2 milyar hektar tanah yang potensial baik untuk pertanian. Separuh dari luas tanah itu yang paling subur dan paling mudah dijangkau oleh manusia telah digarap secara turun temurun dan terus menerus. Semakin bertambah manusia, cenderung semakin berkurang lahan pertanian dan pemukiman.

Diperkirakan pada saat jumlah penduduk dunia menjadi 2 kali lipat akan dihadapi krisis kekurangan tanah yang serius. Krisis kekurangan tanah pertanian tidaklah muncul secara tiba-tiba, melainkan diawali dengan berbagai gejala sebelum kebutuhan tanah pertanian melebihi dari cadangan tanah yang masih ada. Krisis berikutnya, segera menyusul. Produksi pangan tidak mencukupi kebutuhan hidup manusia. Produksi pangan seolah-olah tidak punya arti apa-apa, begitu mucul akan hilang lenyap ditelan lautan manusia. Harga-harga pangan akan melambung tinggi, sehingga pada saat terjadi bahaya kelaparan.

Hutan
Ada banyak sekali manfaat hutan yaitu diantaranya sebagai paru-paru dunia dan penghambat banjir.

Sebagai paru-paru dunia
Kita tahu bahwa di hutan terdapat banyak pepohonan hijau. Pepohonan tersebut melakukan fotosintesis sehingga akhirnya menghasilkan O2. Dan salah satu ciri dari hidup bahwa manusia itu bernafas dimana kita menyerap O2 dan mengeluarkan CO2. Dan bayangkan bagaimana seandainya hutan habis ditebang hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

Sebagai Penghambat Banjir
Bencana banjir di Indonesia disebabkan oleh kerusakan hutan, baik disebabkan berladang secara berpindah-pindah, penabangan kayu oleh masyarakat sebagai mata pencaharian, penebangan kayu untuk dijadikan bahan energi dan untuk keperluan sendiri maupun untuk diperdagangkan, dan yang paling parah adalah penebangan secara modern dan besar-besaran oleh pengusah-pengusah kayu tanpa disertai seleksi yang baik dan tanpa disertai penanaman kembali.

Penebangan pohon-pohon di hutan tanpa penanaman kembali akan mengakibatkan lahan gundul sehingga ketika hujan air tidak diserap tanah karena tidak ada akar, sehingga air terus turun ke bawah dan terjadi banjir.

Pencemaran
Dari segi lain, akibat pertumbuhan penduduk eksponensial, lingkungan perkotaan mengalami pencemaran cukup berat, bersumber dari knalpot-knalpot kendaraan bermotor yang memuntahkan produk-produk karbondioksida setiap saat.

Pada sisi lain penduduk perkotaan juga diancam oleh membengkaknya polutan (zat-zat pencemaran yang menimbulkan polusi), sampah, limbah industri dan limbah rumah tangga.

Kini ancaman polutan bagi umat manusia yang sangat serius datang dari sampah-sampah organik. Beberapa contoh akibat semakin banyak sampah organik dibuang ke luar Baltik yang kemudian membusuk, kadar zat asam di dalam air laut terus menerus berkurang. Hal ini berakibat akan mematikan makhluk-makhluk hidup di laut, tidak terkecuali ikan.

Akibat dari eksploitasi yang melampui batas, secara langsung mempengaruhi kesehatan manusia, kesehatan lingkungan yang tidak memenuhi syarat menimbulkan macam-macam penyakit yang menyebabkan kematian ribuan orang setiap hari. Di negara berkembang penyakit yang membawa maut ialah penyakit menular seperti TBC, radang paru-paru, tipus, kolera dan sebagainya. Khususnya kesehatan lingkungan yang tidak memenuhi syarat, seperti air minum yang tidak baik, bahan makanan dijual tanpa kontrol, pemukiman yang tidak memenuhi syarat, tidak tersedianya fasilitas buang air, saluran-saluran air limbah, pembuangan sampah tidak teratur, tidak tersedianya air bersih dan sebagainya.

Aug
20

Dalam masyarakat Indonesia sebelum masuk kebudayaan Hindu, pendidikan diberikan langsung oleh orang tua atau orang tua-orang tua dari masyarakat setempat mengenai kehidupan spiritual moralnya dan cara hidup untuk memenuhi perekonomian mereka. Masuknya dan meluasnya kebudayaan asing yang dibawa ke Indonesia telah diserap oleh Bangsa Indonesia melalui masyarakat pendidikannya. Lembaga Pendidikan itu telah menyampaikan kebudayaan tertulis dan banyak unsur-unsur kebudayaan lainnya.

Sejarah pendidikan di Indonesia dimulai pada zaman berkembangnya satu agama di Indonesia. Kerajaan-kerajaan  Hindu di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera yang mulai pada abad ke-4 sesudah masehi itulah tempat mula-mula ada pendidikan yang terdapat di daerah-daerah itu. Dapat dikatakan, bahwa lembaga-lembaga pendidikan dilahirkan oleh lembaga-lembaga agama dan  mata pelajaran yang tertua adalah pelajaran tentang agama. Tanda-tanda mengenai adanya kebudayaan dan peradaban Hindu tertua ditemukan pada abad ke-5 di daerah Kutai (Kalimantan). Namun demikian gambaran tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan di Indonesia didapatkan dari sumber-sumber Cina kurang lebih satu abad kemudian.

Ada 2 macam sistem pendidikan dan pengajaran Islam di Indonesia :

Pendidikan di Langgar
Di setiap desa di Pulau Jawa terdapat tempat beribadah dimana umat Islam dapat melakukan ibadanya sesuai dengan perintah agamanya. Tempat tersebut dikelola oleh seorang petugas yang disebut amil, modin atau lebai (di Sumatera). Petugas tersebut berfungsi ganda, disamping memberikan do’a pada waktu ada upacara keluarga atau desa, dapat pula berfungsi sebagai guru agama.

Pendidikan di Pesantren
Dimana murid-muridnya yang belajar diasramakan yang dinamakan pondok-pondok tersebut dibiayai oleh guru yang bersangkutan ataupun atas biaya bersama dari masyarakat pemeluk agama Islam. Para santri belajar pada bilik-bilik terpisah tetapi sebagian besar waktunya digunakan untuk keluar ruangan baik untuk membersihkan ruangan maupun bercocok tanam.
Pendidikan Pada Abad Ke Dua Puluh Jaman Pemerintahan Hindia Belanda Dan Pendudukan
Di kalangan orang-orang Belanda timbul aliran-aliran untuk memberikan kepada pendudukan asli bagian dari keuntungan yang diperoleh orang Eropa (Belanda) selama mereka menguasai Indonesia. Aliran ini mempunyai pendapat bahwa kepada orang-orang Bumiputera harus diperkenalkan kebudayaan dan pengetahuan barat yang telah menjadikan Belanda bangsa yang besar. Aliran atau paham ini dikenal sebagai Politik Etis (Etische Politiek)

Gagasan tersebut dicetuskan semula olah Van Deventer pada tahun 1899 dengan mottonya “Hutang Kehormatan” (de Eereschuld). Politik etis ini diarahkan untuk kepentingan penduduk Bumiputera dengan cara memajukan penduduk asli secepat-cepatnya melalui pendidikan secara Barat.

Dalam dua dasawarsa semenjak tahun 1900 pemerintah Hindia Belanda banyak mendirikan sekolah-sekolah berorientasi Barat. Berbeda dengan Snouck Hurgronje yang mendukung pemberian pendidikan kepada golongan aristokrat Bumiputera, maka Van Deventer menganjurkan pemberian pendidikan Barat kepada orang-orang golongan bawah. Tokoh ini tidak secara tegas menyatakan bahwa orang dari golongan rakyat biasa yang harus didahulukan tetapi menganjurkan supaya rakyat biasa tidak terabaikan. Oleh karena itu banyak didirikan sekolah-sekolah desa yang berbahasa pengantar bahasa daerah, disamping sekolah-sekolah yang berorientasi dan berbahasa pengantar bahasa Belanda. Yang menjadi landasan dari langkah-langkah dalam pendidikan di Hindia Belanda, maka pemerintah mendasarkan kebijaksanaannya pada pokok-pokok pikiran sebagai berikut :

Pendidikan dan pengetahuan barat diterapkan sebanyak mungkin bagi golongan penduduk Bumiputera untuk itu bahasa Belanda diharapkan dapat menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah

Pemberian pendidikan rendah bagi golongan Bumiputera disesuaikan dengan kebutuhan mereka

Atas dasar itu maka corak dan sistem pendidikan dan persekolahan di Hindia Belanda pada abad ke-20 dapat ditempuh melalui 2 jalur tersebut. Di satu pihak melalui jalur pertama diharapkan dapat terpenuhi kebutuhan akan unsur-unsur dari lapisan atas serta tenaga didik bermutu tinggi bagi keperluan industri dan ekonomi dan di lain pihak terpenuhi kebutuhan tenaga menengah dan rendah yang berpendidikan.

Tujuan pendidikan selama periode kolonial tidak pernah dinyatakan secara tegas. Tujuan pendidikan antara lain adalah untuk memenuhi keperluan tenaga buruh untuk kepentingan kaum modal Belanda. Dengan demikian penduduk setempat dididik untuk menjadi buruh-buruh tingkat rendahan (buruh kasar). Ada juga sebagian yang dilatih dan dididik untuk menjadi tenaga administrasi, tenaga teknik, tenaga pertanian dan lain-lainnya yang diangkat sebagai pekerja-pekerja kelas dua atau tiga. Secara singkat tujuan pendidikan ialah untuk memperoleh tenaga-tenaga kerja yang murah. Suatu fakta menurut hasil Komisi Pendidikan Indonesia Belanda yang dibentuk pada tahun 1928 – 1929 menunjukkan bahwa 2 % dari orang-orang Indonesia yang mendapat pendidikan barat berdiri sendiri dan lebih dari  83% menjadi pekerja bayaran serta selebihnya menganggur. Diantara yang 83% itu 45% bekerja sebagai pegawai negeri. Pada umumnya gaji pegawai negeri dan pekerja adalah jauh lebih rendah dibandingkan dengan gaji-gaji Barat mengenai pekerjaan yang sama.

Apr
03

Cooperative learning is the instructional use of small groups which encourage students to work together to maximize their own and each other learning structured, more prescriptive and directive it is (Johnson et al 1990)

Lie Anita dalam bukunya yang berjudul “Cooperative Learning” mengutip perkataan Roger dan David Johnson bahwa ada lima unsur model pembelajaran kooperatif yaitu : saling ketergantungan positif, tanggungjawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok

Kata kunci pembelajaran kooperatif adalah :

  • Tim
  • Pengelolaan Kerjasama
  • Keinginan untuk bekerjasama melalui pengerjaan serangkaian tugas dan penghargaan
  • Keahlian untuk bekerjasama
  • Interaksi yang simultan
  • Terdiri dari serangkaian tahapan yang berbeda dalam setiap model (Kagan 1992)

Tehnik-teknik yang dapat dipakai dalam pembelajaran model kooperatif learning adalah : Jigsaw, STAD, TGT (Slavin 1990) Write Pair Square, Think Pair Square, Inside-Outside Circle, Round-Robin, NHT, Two Stay Two Stray (Kagan 1992), Group Investigation (Sharan et al), Learning Together (Johnson et al 1990), Cooperative Controversy (Johnson and Johnson 1987) Murder – Mood, Understand, Recall, Detect, Elaborate, Review (Hythecker et al 1988)

Write-Pair-Square adalah salah satu teknik pembelajaran kooperatif dengan cara : siswa mula-mula bekerja sendiri, kemudian setelah itu mendiskusikan hasil kerjanya dengan temannya secara berpasangan lalu mereka membahas ulang pekerjaannya dalam kelompok yang terdiri dari empat orang. Terakhir siswa mendiskusikan pekerjaannya bersama-sama didalam kelas dipimpin guru (Kagan 1992)

Two Stay Two Spray adalah salah satu teknik pembelajaran kooperatif dengan cara : siswa mula-mula bekerja didalam kelompok, yang terdiri dari empat orang lalu dua diantaranya menjadi tamu ke kelompok lain untuk membahas dan mengecek hasil pekerjaan kelompok yang didatangi sementara dua siswa tinggal dalam kelompok untuk menerima kunjungan dari kelompok lain guna melakukan hal yang sama, setelah kegiatan itu siswa kembali ke kelompok asal dan terakhir mendiskusikan hasil kerjasanya secara klasikal.